Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

Nefa Alfionita Basiru

S1 Pendidikan ekononi Universitas negri gorontalo 

Anggota Aktifis di Himpunan Mahasiswa Islam [HmI] Komisariat fekon Cabang gorontalo

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

ANTARA KEEGOISAN DAN RASA CINTA YANG KE-211


Oleh : Nefa alfionita Basiru S1 pendidikan Ekonomi di Universitas negeri gorontalo .



 Di ibarkatkan ada sunrise pasti ada juga sunsetnya . Awalnya memberikan Keindahan tapi sungguh disayangkan ia tidak bertahan dengan lamanya karna dia akan pergi dan juga tidak pergi dengan begitu lamanya karna dia pasti kembali . ini bukan sebuah harapan untuk memilikinya seutuhnya cukup hanyalah sebatas kekaguman semata . 

 CINTA !! 

  Kata yg benar-benar dekat dengan logikaku Bukan hanya dekat bahkan dia telah menyatuh dan mampu mengendalikanku . Sungguh kali ini aku tidak terkendali dengan semestinya , Sehingganya lukapun tak pernah Aku sadari dari awal . 


  Mungkin ini yang dinamakan dengan logika ada Indra , Khayal, wahmi , bahkan Akal tapi kali ini semuanya benar-benar tidak dapat ku kendalikan .Sungguh Aku benar-benar jatuh dalam cinta  cinta yang tidak berlogika .


Aku menginginkan Masa kecilku di 19thn Yang lalu


  Mungkin untuk kembali kemasa itu sangatlah tidak mungkin untuk setiap orang termaksud aku . 

“Didalam mimpi aku Berada dimasalalu dengan begitu nyatanya, tapi dikenyataan  Berada dimasa lalu hanyalah sebuah mimpi” .


   Tapi aku ingin seluruhnya kembali kemasa dimana aku menjadi seorang anak kecil , Masa dimana dunia bisa ku genggam Hanya dengan Teriakan “Mama aku menginginkan ini” Tapi sekarang Dunia seakan menggenggamku . 
 Apakah semuanya bisa kukendalikan lagi ? Menfendalikan kembali dengan sebuah ke egoisanku ? 

Aku ingin semua Menjadi MASA BODOH kembali , dengan begitu tidak akan ada luka yang akan tergoreskan tidak akan ada sakit yang akan terasa begitu sakitnya .


Dan mungkin ini karna cinta , karna cinta membuat aku terlalu terluka seperti ini , Karna Harapanku kepada manusia yang membuatku begitu Merasakan sakitnya . 

Dan apakah ini mungkin kesalahan ku dahulu? Aku yang dulunya selalu bermain-main dengan keseriusan yang berlandaskan cinta , Aku yang selalu menganggap cinta kemarin tidaklah penting bagiku dan hanyalah sebuah lolucon . Sungguh aku tak bisa menghindari  KARMA itu sendiri . 

Keadilan !!!

  Tapi apakah semua terasa begitu adil ? mangapa sih Cinta begitu memperbodoh akal Pikiran kita ? Kita slalu berfikir “ini adalah wujud cinta dan ini adalah pembuktian rasa cinta” Apakah ini yang dinamakan dengan pengorbanan ?Sehingganya alam sadar merekamnya berkali-kali , Sungguh ini adalah sebuah kebodohan . 

Setiap detik Ingin rasanya ku mengakhiri segalanya , berkata dengan entengnya .

Bagaimana jika hubungan in diakhiri saja? 

Bagaimana pengerbonan yang kemarin 

dianggap saja sebagai belas kasihanku padamu?

Bagaimana jika aku tidak menyukaimu?

Bagaimana jika cinta ini hanyalah kepura-puraan ?

Bagaimana jika Kamu bukan satu-satunya dalam hidupku tapi kamu hanyalah salah satunya?

Bagimana jika Semua itu terucap? 

Apakah dia akan terluka? 

Ap Keegoisanku ini benar ?

 Sunguh aku benci dengan Rasa cinta yang bersama ku kali ini , Aku ingin semua dalam kendaliku , Melakukan semau hatiku , Memberi luka kepada seseorang tapi tidak untuk membiarkan diriku terluka lagi  . Semuanya aku anggap selesai .




AKU TAK INGIN TERLUKA LAGI

!!!

Fakultas Ekonomi Penentu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 

 (Gorontalo) – Perhelatan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang digelar, Senin (5/2/2018) sangat demokratis dan cukup menegangkan.

Dari dua pasangan calon yang tampil tersebut masing-masing; Nomor Urut 1 adalah Risman Lakoro dan Hersik Basri. Pasangan calon ini diusung oleh dua Fakultas, yakni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) dan Fakultas MIPA.
Sedangkan pasangan calon Nomor Urut 2 adalah Fian Hamzah dan Buyung Hunto yang diusung Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Pertanian (FAPERTA).
Anehnya, justru Fakultas Ekonomi (FEKON) yang tidak mengusung pasangan calon. Padahal, Fakultas ini memiliki mahasiswa terbanyak kedua di UNG, yakni 2.666 jumlah mahasiswa aktif.
Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNG 2015—Abd. Rahman Lakoro mengatakan, pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM tersebut, mahasiswa Fakultas Ekonomi justru lebih memilih pasangan calon Nomor Urut 2—Fian Hamzah dan Buyung Hunto.
Menurut Rahman Lakoro, Fakultas Ekonomi yang menjadi penentu pada pemilihan Presiden dan Wakil Presdien BEM UNG 2018. Terbukti, dari 1.430 yang menggunakan hak pilih, pasangan calon Nomor Urut 2—Fian Hamzah dan Buyung Hunto berhasil memperoleh suara tertinggi, yakni 1.204 suara.
“Hal ini menandakan bahwa Fakultas Ekonomi menjadi penentu kemenangan pasangan calon Fian Hamzah dan Buyung Hunto untuk BEM UNG 2018. Jika kita melihat data peroleh suara, Fakultas Ekonomi pemilih terbanyak ke-2 setelah FOK dan penyumbang terbanyak ke-2 kepada pasangan calon Nomor Urut 2 setelah FIP,” terang Rahman Lakoro.
Dengan kemenangan yang diraih Fian Hamzah dan Buyung Hunto kata Rahman Lakoro, bisa menjadi modal besar bagi Fakultas Ekonomi untuk pemilihan BEM pada tahun yang akan datang.
“Dengan semangat persatuan seperti semboyan Mantan Wakil Dekan III—Almarhum Bapak Maha Atma Kadji, Fakultas Ekonomi bersatu akan menjadikan FEKON salah satu Fakultas yang patut diperhitungkan untuk menjadi kawan koalisi di tahun-tahun akan datang,” tandasnya.*(01/03)

(

Gorontalo) – Perhelatan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang digelar, Senin (5/2/2018) sangat demokratis dan cukup menegangkan.
Dari dua pasangan calon yang tampil tersebut masing-masing; Nomor Urut 1 adalah Risman Lakoro dan Hersik Basri. Pasangan calon ini diusung oleh dua Fakultas, yakni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) dan Fakultas MIPA.
Sedangkan pasangan calon Nomor Urut 2 adalah Fian Hamzah dan Buyung Hunto yang diusung Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Pertanian (FAPERTA).
Anehnya, justru Fakultas Ekonomi (FEKON) yang tidak mengusung pasangan calon. Padahal, Fakultas ini memiliki mahasiswa terbanyak kedua di UNG, yakni 2.666 jumlah mahasiswa aktif.
Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNG 2015—Abd. Rahman Lakoro mengatakan, pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM tersebut, mahasiswa Fakultas Ekonomi justru lebih memilih pasangan calon Nomor Urut 2—Fian Hamzah dan Buyung Hunto.
Menurut Rahman Lakoro, Fakultas Ekonomi yang menjadi penentu pada pemilihan Presiden dan Wakil Presdien BEM UNG 2018. Terbukti, dari 1.430 yang menggunakan hak pilih, pasangan calon Nomor Urut 2—Fian Hamzah dan Buyung Hunto berhasil memperoleh suara tertinggi, yakni 1.204 suara.
“Hal ini menandakan bahwa Fakultas Ekonomi menjadi penentu kemenangan pasangan calon Fian Hamzah dan Buyung Hunto untuk BEM UNG 2018. Jika kita melihat data peroleh suara, Fakultas Ekonomi pemilih terbanyak ke-2 setelah FOK dan penyumbang terbanyak ke-2 kepada pasangan calon Nomor Urut 2 setelah FIP,” terang Rahman Lakoro.
Dengan kemenangan yang diraih Fian Hamzah dan Buyung Hunto kata Rahman Lakoro, bisa menjadi modal besar bagi Fakultas Ekonomi untuk pemilihan BEM pada tahun yang akan datang.
“Dengan semangat persatuan seperti semboyan Mantan Wakil Dekan III—Almarhum Bapak Maha Atma Kadji, Fakultas Ekonomi bersatu akan menjadikan FEKON salah satu Fakultas yang patut diperhitungkan untuk menjadi kawan koalisi di tahun-tahun akan datang,” tandasnya.*(01/03)
Sumber:MediaCerdasBangsa.com

Mana Lebih Tinggi? Derajat Kertas atau Manusia

Narasumber “Piky Herdiansyah”​

Akal pikiran menjadi alat pembeda manusia dari mahluk lain yang hidup di bumi. Dari kemampuan berpikir tersebut lahir gagasan-gagasan yang mengatur cara hidup dan membawa masyarakat pada keadaan hari ini. Dari pikiran tersebut, lahir suatu gagasan yang disebut dengan nilai.
Pada masyarakat kita, umumnya nilai dianggap sebagai sesuatu yang bersifat materil. Namun bila merujuk pada definisi yang dibuat oleh Louis O Kattsoff, ia menyebut sebuah pengertian yang dinamai sebagai nilai instrumental. Ini merupakan salah satu dari 2 definisi yang membahas tentang nilai.


Nilai instrumental merupakan nilai dari sesuatu hal karena dapat dipakai sebagai sarana mencapai tujuan. Hal-hal tersebut dapat kita temukan contohnya dalam wujud ideologi, organisasi, dan benda-benda mati yang menjadi berharga karena ada nilai yang diberikan oleh manusia seperti bangunan bersejarah, batu mulia, dan kertas-kertas berharga.


Seiring waktu, kertas telah menjadi medium penyampai nilai, selain fungsinya sebagai medium informasi dan fungsi-fungsi lainnya.


Kertas telah menjadi alat untuk menyampaikan pengakuan dari orang yang berkedudukan lebih tinggi untuk mengangkat derajat orang lain yang kedudukanya lebih rendah. Kertas digunakan sebagai penanda derajat seseorang dikarenakan nilai yang dibawa oleh kertas itu sendiri.


Misalnya seorang yang telah selesai menempuh pendidikan di suatu institusi diberi gelar sarjana dengan bukti adanya surat tanda tamat belajar atau ijazah. Dengan begitu, seorang yang telah menyelesaikan kuliah S1 berhak disebut sebagai sarjana, dibuktikan dengan selembar kertas ijazah.


Kertas juga digunakan sebagai penanda legalitas kepemilikan atas sesuatu, contohnya pada kepemilikan lahan. Sertifikat kepemilikan tanah dijadikan sebagai bukti legalitas kepemilikan lahan.


Tanpa sertifikat tersebut, maka kepemilikan lahan seseorang dianggap tidak sah, meskipun tanah tersebut sudah dimiliki secara turun-temurun oleh si empunya. Kertas digunakan sebagai alat pengakuan dari individu atau organisasi yang memiliki kedudukan terhadap sesuatu, seperti pemerintah dan rakyatnya dalam hal kepemilikan individu.


Demikian pula terhadap uang kertas. Uang menjadi penanda kekayaan materil dari seseorang. Kertas yang digunakan sebagai alat yang dapat ditukar dengan sesuatu yang menjadi kebutuhan seseorang.


Uang kertas juga menjadi benda yang menentukan kesejahteraan masyarakat terutama di perkotaan. Dengan uang, seseorang bisa sampai pada derajat yang tinggi dan memiliki kekuasaan yang besar. Karena uang juga, seseorang dapat menjadi melarat dan menderita karena kemiskinan materil mengakibatkan akses terhadap kebutuhannya menjadi terbatas.


Keluarga saya mengumpulkan surat-surat berharga dan uang tunai yang kami miliki dalam sebuah tempat khusus yang tahan api dan mudah dimobilisasi. Ayah saya sering mewanti-wanti kami ketika terjadi keadaan genting seperti kebakaran, maka yang pertama kali harus diselamatkan adalah kertas-kertas berharga tersebut, barulah hal hal lain ikut diselamatkan selagi bisa.


Contoh di atas merupakan beberapa kasus bagaimana kertas menjadi sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, bahkan menentukan derajat dan kuasanya dalam masyarakat. Apabila kita uraikan bagaimana kertas-kertas itu seakan sangat berpengaruh, maka kita tidak dapat mengesampingkan nilai yang terikat pada kertas-kertas tersebut.


Namun, permasalahannya adalah kertas-kertas bernilai tersebut telah sedikit banyak merubah pola pikir dan orientasi manusia terhadap prinsip-prinsip kehidupanya sendiri. Tanpa sadar, kertas-kertas tersebut telah menciptakan pola pikir pada masyarakat yang justru mengisolisasi individu yang tak memilikinya.


Ketika lahir seorang terjebak pada pemikiran bahwa uang adalah segalanya, hingga beberapa orang mati-matian mengejarnya, akhirnya uang bagi sebagian orang itu merupakan tujuan hidup yang terus menjadi orientasinya hingga akhir hayat. Pada keluarga pra-sejahtera, uang dianggap menjadi satu-satunya faktor yang dapat menaikan kesejahteraan dan derajatnya di tengah-tengah masyarakat.


Maka bekerja menjadi satu-satunya cara bagi mereka untuk meningkatkan kesejahteraan. Anak-anak disekolahkan agar mendapat ijazah sebagai syarat bekerja di masa yang akan datang, yang cenderung merubah motivasi belajar anak dari tujuan besar pendidikan itu sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan seorang manusia. 


Akibat misorientasi tersebut maka sekolah dianggap hanya sekedar formalitas untuk memperoleh selembar ijazah, bukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.


Juga muncul fenomena-fenomena seperti orang-orang yang mengikuti seminar atau forum lainya dengan tujuan untuk mendapat sertifikatnya saja. Ilmu yang diterima tidak lagi diperhitungkan sebagai tolak ukur.


Hal ini tentu menjadi keprihatinan dimana lembaran kertas bernilai yang seharusnya mempermudah hidup manusia, justru membawa manusia terjebak pada pola pikir yang mengisolasi diri. Tanpa sadar manusia yang memiliki pola pikir seperti itu akan terjebak pada rutinitas yang tak Ia mengerti dan akhirnya nasib seseorang seakan ditentukan oleh selembar kertas.


Memang, dalam hidup, kita sangat memerlukan kertas-kertas bernilai tersebut. Namun jangan sampai menjadikannya sebagai orientasi utama. Banyak substansi dasar dari kegiatan yang diakhiri dengan pemberian kertas dan selalu ada hal yang dapat kita pelajari di dalamnya.


Terkadang banyak kita dengar orang-orang yang mengeluh terhadap pekerjaannya, karena dirasa membosankan namun tetap harus dilakukan untuk mendapatkan uang. Maka lakukanlah pekerjaan yang dirasa menyenangkan dan sesuai dengan minat dan bakat kita, agar orientasi untuk mendapatkan uang tidak menjadi orientasi utama dari pekerjaan kita, namun kebahagiaan dalam menjalani kehidupan sehari-harilah yang menjadi tujuannya.


Berhenti berpikir bahwa hanya dengan ijazah kita bisa survive dalam kehidupan. Banyak orang yang telah membuktikan keberhasilan tanpa selembar ijazah, Thomas Alva Edison, Bill Gates, dan Susi Pudjiastuti adalah beberapa di antaranya. Bukan ijazah yang membawa keberhasilan tapi kerja keras dan pengetahuan.


Pada dasarnya kita tidak bisa memungkiri keberadaan kertas-kertas yang bernilai sebagai alat mencapai tujuan, namun baiknya jangan sampai terjebak pada pola pikir yang justru membuat kita tidak berdaya tanpa kertas-kertas tersebut. Kita adalah manusia dan kitalah yang memberi nilai pada kertas-kertas tersebut, bukan sebaliknya



Berikan Masa kecil Kami

NefaBasiru S1 pendidikan ekonomi Ung 


https://youtu.be/zzgFCZgNDrY



karna dianggap politik sehingganya banyak yang tidak pemperdulikan  dengan nasip mereka . 

Mereka menjadi konflik berkepanjangan , dan kita enteng menganggap ini konflik politik, persoalan anak-anak bukanlah persoalan politik .


Merekapun berkata “

Kami datang untuk merayakan Hari Raya Ketika hari raya kami ingin bertanya Kenapa tidak ada di tempat kami? Perayaan dan juga perhiasan? Wahai DUNIA…!!! 

Bumiku hancur terbakar

 Bumiku yang merdeka telah dirampas…!! 

Kami bercita-cita dan bermimpi Entah kapan harinya, Dimanakah matahari yang bersinar? Dan merpati yang terbang menghilang? 

Wahai DUNIA…!!! Bumiku hancur terbakar

Bumiku yang merdeka telah dirampas…!!

 Bumiku yang kecil, sekecil diriku… Kembalikan kedamaian, kembalikan masa kecil kami… 

Pulangkan masa kecil kami… Kembalikan masa kecil kami… Pulangkan masa kecil kami… Kembalikan masa kecil kami… Pulangkan…

kembalikan…kedamaian… Aku adalah seorang anak kecil, ada yang ingin aku tanyakan… Mohon dengarkanlah.. 

Aku adalah seorang anak kecil yang ingin bermain, kenapa tidak kau biarkan… 

Pintu-pintuku menunggu… 

Teman-temanku berdoa… 

Hati kecil kami berbicara…

 Berikan kami kesempatan…

berikan kami kesempatan….

 Berikan kami kesempatan…

berikan kami kesempatan…. 

Berikan kami kesempatan…

berikan kami kesempatan…. Tolonglah…

tolonglah… berikan kami kesempatan… Pulangkan masa kecil kami… Kembalikan masa kecil kami… Pulangkan masa kecil kami… Kembalikan masa kecil kami… Pulangkan…kembalikan…kedamaian..

AKU MAHASISWA !!

NefaBasiru S1 pendidikan Ekonomi Universitas negri gorontalo 


Jika kau pernah melihat singa tak bertaring itulah Aku.

jika kau melihat pohon tak berbuah itulah sikapku .

jika kau pernah melihat bunga tak mekar, merasakan api tak panas , batu tak padat, burung tak terbang , bumi tak hijau , dan kehidupan tak bernyawa itulah karakterku .

Aku adalah jangkring yang berteriak ngilu kepada petani yang lebih memilih membangun gedung dari pada padi.

aku adalah warna yang menangis karna jati dirinya telah direbut oleh para politisi .

inilah diriku semenjak menginjak tanah politik bergedung pendidikan tinggi  .

Aku sebenarnya Apa? 

 Aku sebenarnya apa? mengapa aku tak tau arti sebuah DESIMA ? atau memang ada yang tidak ingin aku tau , mengapa otakku begitu kosong ? atau ada yang memang mencurinya . dan mengapa nyaliku begitu dingin ? atau sudah ada yang membekukannya . Ada apa dengan semua ini ? semua terasa terbalik tercampur aduk , abstrak tidak jelas , mana yang hitam dan mana yang sebenarnya putih? 

Aku sebenarnya apa? Aku selalu berkata iya padahal aku bisa berkata tidak untuk merdeka , mangapa pikiranku menjadi diam padahal aku bisa memberikan pertanyaan untuk setiap kebijakan , mengapa nyaliku begitu ciut padahal aku bisa maju melihat masa depan . 

Aku sebenarnya apa? bedanya aku ada yang memblender otakku sehingga aku tidak mampu berfikir banyak , dan sudah tidak bisa bergerak maju .


AKU ADALAH MAHASISWA 

Mahasiswa yang hanya terkurung dalam sangkar yang dipaksa menjadi siswa,  aku telah kala ,remuk , dieksekusi mati-matian didalam kesadaran  , sakit sangat sakit , benar-benar sakit ketika mempunyai kaki tidak bisa menendang tangan tidak bisa menggenggam , kepala tidak bisa berfikir , mulut tidak bisa berkata tidak.

Aku ini mahasiswa tapi mahasiswa yang tidak berhasil meruntuhkan orde baru , aku memang mahasiswa , tapi bukan mahasiswa yang berhasil mengangkat garuda dengan gagahnya , aku mahasiswa tapi mahasiswa yang lagak tidak selayak mahasiswa sebenarnya  , karna aku hanya mahasiswa yang diam dan duduk didalam sangkar yang dipaksa menjadi siswa !!

Kau , aku , kita , kami, kalian , dan semuanya hanyalah mahasiswa yang di kurung didalam sangkar dan dipaksa menjadi siswa. 

Apa yang telah kita lakukan dan berikan? 


 Kembalikan MAHA kami !!

Apa Yang Terjadi Republik Ini?

 Apakah?

    Apakah pemimpin itu harus kaya ? Bergelimang harta dengan uang rakyat

     Apakah pemimpin itu harus mempunyai mobil mewah , dan di kawal setiap hari?

     Apakah pemimpin itu harus korupsi ? Harus memakai benda yg mewah dan mahal .

     Apakah pemimpin slalu benar dan slalu disegani selamanya ?

Nyalakan Tanda Bahaya 

      bagi rakyat jelata , hukum tidak bisa menyentuh yang diatas sana , Hukum hanya menjadi alasan penindasan rakyat saja . 

Apakah pemimpin itu harus dilindungi? Meskipun bersalah dan telah terbukti .
Apakah pemimpin itu harus didewakan ?dan dianggap selalu benar selamanya .

Apa yang akan terjadi ?

Ketika penguasa pasus terhadap rakyatnya ,Ketika hukum tidak berfungsi ,ketika politik tdk dipercaya ,ketika ekonomi sulit diatasi ,Ketika agama sebagai alat membohongi , ketika budaya menghancurkan moralitas . APA YANG TERJADI REPUBLIK INI?? 

Krisis Politik membuat kita sadar , krisis politik membuat kita berfikir ke depan ,Kehancuran sistem membuat kita lebih maju , kehancuran sistem membuat kemerdekaan sepenuhnya .

Ketika mendiam memutar balikan fakta , ketika propoker kehilangan pemikirnya, ketika pendidikan jelas orientasinya ,ketika institusi tidak berjalan dengan semestinya . APA YANG TERJADI REPUBLIK INI ?

Persatuan !!

Mari kita bersatu Menyatuhkan pandangan, sejuta-juta karya masa mampu merubahnya , mari kita bergandengan tangan tanpa membedakan ,menuju kemerdekaan yang sesungguhnya . 

Dimanakah?

   Kalau agama tak pernah ada, Maka membunuh adalah hal yang akan aku lakukan pertama, Membunuh siapa saja yang memandang orang yang kemampuannya dibawah standar dengan sebelah mata, Membunuh mereka dgn pisau berlumur kata tanpa darah tanpa air mata, hanya penyesalan yang ingin ku lihat pada wajah mereka, wajah-wajah yg merasa diri paling sempurnal berlagak menjadi orang paling penting di dunia memuji diri sendiri walau sejuta mata memendang hina.

12 januari 2018

Tepat pada tanggal itu , Sosok seorang pemimpin terlihat begitu menjijika , Apakah dijaman kapitalisme ini adakah pemimpin yang benar-benar pemimpin ?? Mereka bersenang-senang dengan uang rakyat , Merasa sudah merasa paling atas tanpa ingin melihat kebawah lagi . Apakah tidak pernah terlintas dipikiran mereka Kenapa meraka bisa sampai diatas seperti saat ini?

12 januari 2018

Tepat pada tanggal itu Kejadian yang benar-Benar tidak diinginkan terjadi kepada seorang petani .

ia Seorang bapak yang sering disapa dengan nama Bapak fadel tersebut Sosok pahlawan bagi rakyat, Demi untuk melanjutkan kehidupan memaksakan dirinya untuk bekerja Walaupun dalam keadaan sakit . Sejauh ia berjalan iapun terjatuh karna kepalanya terasa sakit, sehingganya ia tdk mampu mengendalikan dirinya sendiri, Bapak fadel pun tidak tersadarkan diri dengan berjam-jam lamanya . Ketika ia tersadarkan diri  iapun terkejut dengan posisi tubuh yang penuh dengan lumpur dan kepala yang berlumuran darah . Bapak fadel kemudian memaksakan diri untuk pulang dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki mengobati lukanya dengan seadanya . Kasihan benar-benar kasihan , inikah yang dinamakan dengan sejahtera? Terus mana yg dijanjikan akan tunjangan gratis?

Begitu kejamnya dunia . Semuanya serba mahal.  Biaya kesehatan mahal, biaya pendidikan mahal, biaya ekonomipun mahal . 

Yang jadi pertanyaanku « 

dimanakah sosok seorang pemimpin yang pernah berkata-kata manis akan kesejateraan rakyatnya , lebih banyak lagi Rakyat yang tidak sejahtera di luar sana . Teruuus dimanakah pemimpin itu? Apakah dia hanya bisa duduk angkat kaki saja? terus Bagaimana dengan Rakyatnya?

Apakah sekarang agama tidak di takuti ? Apakah benar tuhan tidak ditakuti lagi ? 

Yah benar kebanyakan pejabat tdk takut tuhan dan mungkin juga itu karna hukum begitu lemah sehingganya negara ini tidak pernah menjadi negara yang maju , contoh halnya dgn pejabat , dimulai dari hakim-hakim yag amar keputusannya menyebut allah walaupun keputusan itu tidak jujur dan yag tidak takut sama tuhan adalah anggota dewan yg telah bersumpah kepada allah waktu diangkat telah mengingkari sumpahnya . Miriskan ?